√ Cara Ternak Sapi Bali yang Efektif Secara Lengkap

√ Cara Ternak Sapi Bali yang Efektif Secara Lengkap –Hai para budidayawan kembali lagi dalam artikel carabudidaya.co.id. Kali ini kita akan membahas mengenai cara ternak sapi bali secara lengkap.

Ada yang sudah mengetahui bagaimana Cara budidaya Sapi Bali? Mari simak yuk dalam penjelasannya dibawah ini ya.

 

√ Cara Ternak Sapi Bali yang Efektif Secara Lengkap
√ Cara Ternak Sapi Bali yang Efektif Secara Lengkap

 

Mengenal Sapi Bali

 

Dinamakan Sapi Bali dikarenakan penyebaran populasi bangsa sapi ini terdapat di pulau bali. Sapi bali atau Bos Sondaicus termasuk sebagai salah satu jenis sapi asli yang berasal dari Indonesia,dan sapi ini yakni keturunan asli banteng atau (Bibos banteng) dan sudah mengalami proses pemeliharaan yang terjadi sebelum 3.500 SM.

Sapi Bali dikenal juga dengan nama Balinese cow yang sering disebut juga dengan nama Bibos javanicus, meskipun sapi bali bukan satu subgenus dengan bangsa sapi Bos taurus atau Bos indicus. Berdasarkan hubungan silsilah famili Bovidae, kedudukan sapi Bali diklasifikasikan ke dalam subgenus Bibovine tetapi masih termasuk genus bos.

Payne dan Rollinson (1973) menjelaskan bahwa bangsa sapi ini diklaim berasal dari pulau Bali, sebab pulau ini sekarang merupakan pusat penyebaran/distribusi sapi untuk Indonesia, karena itu dinamakan sapi bali dan tampaknya telah didomestikasi sejak jaman prasejarah 3500 SM.

 

Ciri – Ciri Sapi Bali

 

Ciri – Ciri Sapi Bali Betina

  • Sapi bali betina sudah dapat dikawinkan pada usia 2 hingga 2,5 tahun.
  • Jarak melahirkan antara 12 hingga 14 bulan.
  • Tanduk sapi bali betina cenderung mengarah ke dalam.
  • Berwarna sawo matang kemerahan.

Ciri – Ciri Sapi Bali Jantan

  • Sapi bali jantan yang sudah mulai tua akan timbul warna putih pada dahinya dan diantara dasar-dasar tanduknya.
  • Sapi bali mempunyai dada yang dalam dan juga tubuh yang padat,
  • Tanduk sapi bali jantan tumbuh melebar ke arah luar kepala dan
  • Sapi bali memiliki ciri khas yaitu tidak berpunuk dan berkaki ramping.
  • Pada sapi jantan akan berubah warna menjadi hitam. Namun apabila dperhatikan sapi bali jantan mempunyai bulu berwarna sawo matang kemerahan seperti pada sapi betina.

 

Cara Ternak Sapi Bali

Langkah pertama yang harus dilakukan dalam berternak sapi bali ialah :

 

1. Pemilihan Bibit Sapi Bali

Kriteria ideal fisik bibit sapi bali :

  • Periksalah bagian kepala, leher, kaki, bila perlu sampai organ kelaminnya juga.
  • Bibit sapi Bali yang sehat biasanya juga memiliki kulit yang mengilap dan
  • Area hidung sapi biasanya selalu basah ketika terkena sinar matahari.
  • Sapi yang memiliki nafsu makan yang tinggi.
  • (Sapi yang susah makan cenderung gampang sakit dan rawan terjadi kematian di kemudian hari).

 

2. Pemilihan Lokasi kandang Sapi Bali

  • Kandang sapi dibuat jauh dari pemukiman penduduk,
  • Jarak minimum 10 meter dari rumah peternak sapi.
  • Lahan pertanian memiliki jarak yang cukup dekat dengan kandang sapi,
  • Jangan lupa memberi sedikit halaman di sekitar kandang,
  • Lokasinya juga dibuat mudah dijangkau oleh kendaraan.
  • Lokasi kandang harus mendapatkan pencahayaan sinar matahari yang cukup untuk menjaga suhu kandang sapi.

 

3. Persiapan Kandang Sapi Bali

  • Kandang harus memiliki penutup atap yang dapat melindungi sapi dari terik matahari dan hujan
  • Tetapi sapi juga harus tetap mendapatkan cukup sinar matahari.
  • Pastikan sirkulasi udara lancar .
  • Kandang juga harus dijaga kebersihannya (karena kebersihan dapat menjaga hewan ternak dari penyakit. Sehingga hewan sapi tetap terjaga kesehatannya).
  • Buatlah saluran pembuangan limbah kotoran yang lancar dan tempat penampungan limbah kotoran sapi yang cukup untuk menampung jumlah kotoran.
  • Ukuran kandang per-sapi yang ideal adalah 1,5 x 2 meter dan 2,5 x 2 meter untuk satu ekor jantan.
  • Sedangkan untuk seekor sapi betina dewasa idealnya 1,8 x 2 meter.
  • Dan ukuran kandang ideal untuk seekor betis adalah 1,5 x 1 meter.

 

4. Pemberian Pakan Sapi Bali

Dalam pemberian pakan ternak usahakan pakan yang diberikan terdiri dari daun-daunan hijau dan konsentrat yang bergizi.
Berikut ialah beberapa komposisi konsentrat yang umum digunakan dan mudah didapat antara lain :

  • Dedak (bekatul) dengan tekstur 70% atau 75% atau bisa diganti dengan alternatif berupa batang rumbia yang didalamnya terdapat sagu rumbia.

  • Batang rumbia memiliki karbohidrat yang cukup tinggi. Batang rumbia dapat diolah untuk memberi pakan sapi dengan cara kupas kulit terluarnya kemudian  hancurkan batang rumbia yang sudah dikupas dengan mesin atau manual dengan cara dicincang menjadi ukuran 0.5 cm atau lebih kecil. Dan yang terakhir rendam hasil cincangan tersebut dengan air, biarkan selama sehari dan berikan pada sapi.

  • Jagung giling dengan tekstur 8%-10% berperan sebagai penambah nutrisi terutama kebutuhan serat dan lemak kasar yang tidak ada pada dedak. Sehingga jika jagung giling dan dedak dikombinasikan akan saling melengkapi.

  • Bungkil kelapa dengan tekstur 10%-15% atau dapat diganti bungkil kacang tanah atau kedelai tentunya dengan kandungan nutrisi yg berbeda-beda. Bungkil kelapa merupakan hasil sisa dari pembuatan dan pemerasan minyak kelapa yang diperoleh dari daging kelapa yang telah dikeringkan terlebih dahulu dimana berperan sebagai sumber protein.

  • Tepung tulang atau kalsium dengan tekstur 2%-5% berperan sebagai pelengkap kebutuhan akan mineral terutama kalsium sebagai penambah protein.
    Garam dapur dengan komposisi sebesar 2% cukup untuk memenuhi kebutuhan mineral.

  • Pemberian dosis/takaran yang tepat pada pakan konsentrat ini ialah diberikan sebagai makanan penguat/extra pada ternak sapi potong di samping makanan pokok yang utama berupa rumput segar dan hijau.

  • Perbandingan pemberian pakan pokok (hijauan) dan konsentrat untuk pakan penggemukan sapi adalah antara 30% : 70% atau maksimal 20% : 80% .

  • Waktu pemberian konsentrat yang baik dan ideal dilakukan sekali setiap hari pada pagi hari sebelum diberi makanan utama berupa rumput. Dri hasil penelitian juga ditemukan bahwa urutan pemberian konsentrat lebih dahulu sebelum makanan utama (hijauan) lebih efektif untuk meningkatkan berat badan karena pemberian konsentrat lebih dahulu bertujuan untuk memberikan energi yang lebih besar kepada mikroba rumen untuk mencerna makanan pokok (rumput, dsb.)

 

5. Masa Perkawinan dan Kelahiran Sapi Bali

Sapi bali dapat menghasilkan anak dalam kurun waktu setahun berkisar 80-86%, dengan kematian anak yang relatif rendah, yaitu berkisar 1,87%. Pada pemeliharaan yang ekstensif (digembalakan) kematian anaknya lebih tinggi karena ditinggal induknya di semak-semak. Pada dari itu pemeliharaan dikandang dapat menekan kematian anak sapi yang dilahirkan.

Kemampuan reproduksi sapi bali sangat baik, sapi betina dikawinkan pertama kali pada umur 2-2,5 tahun, dimana perkembangan tubuh dan organ reproduksinya sudah sempurna. Jarak melahirkan anak sapi berkisar antara 12-14 bulan, tergantung pada cara pengelolahan nya. Indeks kebuntingan sapi bali kira-kira 1,2 yang artinya sapi betina menjadi bunting setelah dikawinkan 1,2 kali (paling tidak sekali).

  • Sistem Perkawinan

Perkawinan sapi bali pada umumnya dilakukan dengan dua cara, yaitu :

– Secara Alami (kawin dengan sapi jantan pemacek)

– Secara Inseminasi buatan.

Perkawinan secara alami umumnya tidak menghasilkan anak yang baik, mengingat sapi jantan pemaceknya tidak cukup baik. Untuk mendapatkan anak sapi yang baik, perkawinan dengan inseminasi buatan lebih menjanjikan mengingat inseminasi buatan menggunakan sperma dari sapi pejantan unggul (pilihan).

Untuk terjadi kebuntingan, harus diperhatikan saat perkawinannya. Sapi bali betina tidak dapat dikawinkan setiap saat. Perkawinan dapat dilakukan pada saat sapi betina birahi (minta kawin) yang terjadinya setiap 21 hari (satu siklus). Sapi betina yang sedang birahi akan tetap berdiri ditempatnya apabila dinaiki oleh pejantan.

 

Tanda-tanda sapi birahi dengan ternak lain secara umum, yaitu:

  • Sapi gelisah dan tidak tenang.
  • Sapi sering menguak/melenguh
  • Sapi mencoba menaiki ternak lainnya dan akan tetap diam kalau dinaiki sapi lainnya
  • Pangkal ekornya sering terangkat sedikit dan kadang-kadang keluar cairan jernih transparan yang mengalir dari kemaluannya.
  • Sapi dara sering ditunjukkan dengan membengkaknya bagian vulva dan kadang berwarna kemerahan.
  • Ada kalanya sapi menjadi pendiam dengan nafsu makan yang kurang.

 

 

  • Pelaksanaan Perkawinan Sapi Bali

Setelah terlihat tanda-tanda birahi, sapi harus cepat dikawinkan. Perkawinan dapat dilakukan secara alami atau dengan inseminasi buatan seperti telah diuraikan di depan. Kalau akan dilakukan inseminasi buatan, laporkan sapi yang sedang birahi kepada petugas (inseminator) yang telah ditunjuk oleh Dinas Peternakan setempat.

 

  • Menentukan Kebuntingan Sapi Bali

kebuntingan dapat diamati 21 setelah perkawinan dilakukan. Kalau tidak ditunjukkan tanda-tanda birahi, berarti kebunting telah terjadi, namun apabila tanda-tanda birahi muncul lagi, berarti perkawinan perlu diulang. Cara lain yang dapat dilakukan adalah dengan perabaan, yang hanya dilakukan oleh petugas yang terlatih dan berpengalaman. Lama bunting sapi bali berkisar 280-285 hari. Setelah anak sapi lahir, induk sapi dapat dikawinkan lagi setelah 3 bulan melahirkan. Untuk menjaga pada proses kehamilan sapi sebaiknya sapi yang bunting harus dipisahkan dari sapi lainnya.

 

  • Mempersiapkan Kelahiran

Beberapa hari menjelang melahirkan, induk yang sedang hamil akan menunjukkan tanda-tanda:

  • Ambing membesar dan kencang
  • Urat daging disekitar vulva mengendor, dan di kanan-kiri pangkal ekor kelihatan legok.
  • Beberapa saat menjelang melahirkan, sapi gelisah.

Apabila tanda-tanda tersebut sudah muncul, kandang harus segera dibersihkan dari kotoran dan diberi alas dengan jerami kering.

Dan berikan pertolongan dengan cara :

  • menarik kaki anak sapi yang baru lahir, namun harus dilakukan dengan hati-hati.
  • Gerakan penarikan harus sesuai dengan irama dengan kontraksi/pengerahan tenaga yang dilakukan oleh induk.

Setelah melahirkan, induk sapi biasanya membersihkan lendir yang menempel pada anaknya dengan jilatan-jilatan. namun apabila induknya lemah dan tidak mampu segera melakukannya, maka kita perlu menolong membersikannya, terutama yang mengganggu lubang pernafasannya.
Supaya kelahiran berjalan lancar, induk sapi yang akan beranak diberi kesempatan bergerak kira-kira 2-3 minggu menjelang melahirkan.

 

 

6. Perawatan dan Pemeliharaan Sapi bali

  • Jangan sampai membiarkan ketika terlihat aktivitas yang tidak biasa dilakukan oleh sapi Anda.
  • Vaksinasi juga perlu dilakukan untuk menjaga kekebalan tubuh sapi, kemudian memberikan obat cacing.
  • Bersihkan kandang setiap hari dan jaga agar kandang tetap kering dan bersih untuk menghindari berbagai virus dan penyakit yang menyerang tubuh sapi.
  • Buatlah lubang udara yang cukup supaya terdapat sirkulasi udara yang baik bagi sapi.
  • Buatlah atap yang teduh hingga mencapai sisi luar kandang agar tidak terkena cipratan air hujan, hal itu dapat menyebabkan kandang sapi lembab, bau, dan mudah menjadi sarang bakteri, virus, kuman penyakit.
  • Tempat makan dan minum sapi jangan sampai kosong. Harus dilakukan pengecekan rutin pada tempat minum, jika airnya kotor maka harus segera diganti dengan yang bersih.
  • Pisahkan dan beri jarak antara tempat makan dan tempat minum agar air tidak tumpah ke tempat makan, atau air kotor karena makanan yang mengendap di tempat minum.
  • Pemeliharaan dan perawatan sapi membutuhkan waktu yang cukup lama. Anda harus memiliki kesabaran ekstra, apalagi jika beternak sapi dengan jumlah yang banyak, tenaga satu orang saja tidak cukup.
  • Setelah 3 atau 4-5 tahun, saat sapi telah dewasa, dan siap dipasarkan, itu adalah saatnya mulai menghitung keuangan, keuntungan dan merencanakan perkembangan bisnis ternak sapi Anda ke depannya

 

Demikianlah penjelasan terlengkap mengenai √ Cara Ternak Sapi Bali yang Efektif Secara Lengkap . Semoga bermanfaat dan juga dapat menambah ilmu pengetahuan akan cara membudidayakan nya. Terima Kasih

Baca Juga Artikel

[irp]

[irp]

[irp]

[irp]

[irp]

/* */